Tanpa Terburu-buru Berdamai dengan Covid-19

Tanpa Terburu-buru Berdamai dengan Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID, oleh Andri Saubani* Tambahan kasus baru positif Covid-19 dalam Indonesia mencapai angka tertingginya pada Sabtu (10/5) yakni 533 peristiwa selama 24 jam terakhir. Nilai itu menjadi yang tertinggi semenjak Indonesia mengumumkan kasus pertamanya pada 2 Maret. Adapun, jika melihat kurva Covid-19 dalam sepekan final, tambahan kasus baru bersifat fluktuatif pada rata-rata angka 400-an kasus…
Klaim pelambatan laju kejadian Covid-19 belum didukung tes kekar PCR.

REPUBLIKA. CO. ID, sebab Andri Saubani *

Tambahan peristiwa baru positif Covid-19 di Nusantara mencapai angka tertingginya pada Sabtu (10/5) yakni 533 kasus semasa 24 jam terakhir. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Indonesia mengumumkan kasus pertamanya pada 2 Maret. Adapun, jika melihat kurva Covid-19 dalam sepekan terakhir, bunga kasus baru bersifat fluktuatif di dalam rata-rata angka 400-an kasus anyar setiap harinya.

Pakar epidemiologi dan juga Ikatan Sinse Indonesia (IDI) meyakini bahwa, Indonesia belum berada pada puncak kurva penyebaran Covid-19. Mereka kompak, kalau Covid-19 masih menyebar dengan nilai tambahan kasus baru positif yang tinggi.

Agak berbeda dengan epidemiolog dan IDI, pemerintah lewat gugus tugas sepekan terakhir seperti sedang membangun narasi bahwa penyebaran dan penularan kasus Covid-19 telah berhasil ditekan atau setidaknya dibuat landai kurvanya. Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo pada 4 Mei lalu menyuarakan adanya penurunan 11 persen laju penambahan kasus baru Covid-19 dalam Indonesia.

Setelah Doni, Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Bani adam dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy bersyukur, prediksi pertambahan tajam jumlah pasien Covid-19 di Indonesia tidak terjadi. Dia menilai, lantaran hari ke hari, data anak obat baru positif Covid-19 semakin lembek dan jumlah pasien yang sembuh semakin banyak.

Boleh kebetulan atau memang telah diskenariokan, pernyataan Doni dan yang senada lainnya kemudian disambut oleh wacana-wacana relaksasi aturan pengetatan pergerakan karakter mulai dari pelonggaran larangan mudik hingga rencana relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mudik memang tetap dilarang, tapi pemerintah lewat keputusan yang dibuat Menteri Relasi pada akhir pekan lalu, berangkat membuka kembali izin operasi moda transportasi dengan syarat dan keyakinan tertentu.

Pemerintah seakan sudah tak sabar roda ekonomi harus segera kembali bergeliat. Belakangan bahkan bocor kajian skenario perbaikan ekonomi pasca-Covid yang dibuat oleh Kemenko Perekonomian. Dalam kajian tersebut, kegiatan ekonomi akan mulai dibuka secara bertahap dengan menerapkan aturan kesehatan pada Juni.

Pemerintah seperti yakin penyebaran Covid-19 telah berhasil dikendalikan. Sehingga, mereka berani memprediksi bahwa wabah akan memuncak pada Juni atau Juli dan setidaknya pada Agustus, kehidupan sosial masyarakat di Tanah Tirta sudah bisa normal kembali.  

Prediksi, skenario, atau keyakinan pemerintah bahwa kurva Covid-19 di Indonesia mulai melandai atau bahkan menuju penurunan bisa dibilang tidak fair jika hanya merujuk dalam statistik harian yang diumumkan sebab juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Apalagi, di pekan setelah Doni menyebut tersedia penurunan 11 persen laju penambahan kasus baru, kemudian terjadi lonjakan kasus secara signifikan setidaknya perut kali yakni pada 5 Mei (484 kasus) dan 10 Mei (533 kasus).

Klaim pemerintah menjadi semakin tidak fair jika merujuk pada jumlah dan akal tes PCR kita. Di negara Barat, jumlah kasus mencapai ratusan  ribu orang bahkan 1 juta kasus seperti di Amerika Konsorsium, karena sejalan dengan masifnya jumlah tes PCR yang mereka jalankan. Adapun di Indonesia, hingga saat ini masih sulit memenuhi target yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar 10 ribu ulangan PCR per hari.

Logika sederhana: sedikit tes, kecil pula kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Padahal, angka pasien dalam pengawasan (PDP) di Indonesia telah mencapai angka 30 ribuan orang. Berdasarkan data yang dimiliki Kemenkes, jumlah tes tertinggi harian terjadi di Jumat (8/5) lalu sebanyak 9. 630 tes.

Nalar orang yang diuji Covid-19 pada Indonesia pun hanya 0, 4 per 1. 000 orang. Bandingkan dengan Italia yaitu 39 bohlam 1. 000 orang, AS yakni 24 per 1. 000 karakter, Vietnam 2, 7 per satu. 000 bahkan negara tetangga Malaysia bisa 7 per 1. 000

Statistik yang dirilis Our World In Data menyimpulkan, level tes Covid-19 di Indonesia sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara2 yang memiliki demografis relatif serupa di sekitar kawasan. Yang memutar penting, menurut situs tersebut, Nusantara juga lambat dalam memperluas penguasaan tes.

Doni mengiakan, kendala tes PCR terdapat di jumlah sumber daya manusia ataupun petugas lab yang terbatas, tidak pada ketersediaan alat tes. Menurut Doni, pemerintah sudah mendatangkan lebih dari 420 ribu reagen PCR. Makin, pada 3 Mei, sudah muncul lagi 500 ribu viral transport medium (VTM) dan ekstraksi RNA.

Untuk diketahui, reagen adalah maujud atau senyawa yang digunakan ke sistem saat pengetesan yang membuahkan reaksi kimia untuk melihat apakah terjadi reaksi. Komponen lain dengan dibutuhkan untuk PCR adalah VTM atau media pembawa virus & ekstrak RNA atau pemurnian masam nukleat rantai tunggal yang ialah hasil translasi dari DNA.

Tes PCR Covid-19 dasar terbilang jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan rapid test . Namun, kompleksitas tes PCR mestinya tidak bisa dijadikan alibi atas rendahnya tingkat tes kita yang kemudian dijadikan tumpuan untuk membangun narasi seolah-olah kita sudah berhasil mengendalikan Covid-19.

Jika kemampuan atau daya tes PCR kita masih aib, apa tujuan narasi pelambatan cepat penambahan kasus baru Covid-19 atau kurva Covid-19 yang sudah menurun? Apakah pernyataan Presiden Jokowi. “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke pendahuluan, ” itu artinya kita sudah menyerah berperang melawan Covid-19?

*penulis adalah jurnalis Republika .