Kenangan Perayaan Idul Fitri dari Zaman Nabi Hingga Kini

Kenangan Perayaan Idul Fitri dari Zaman Nabi Hingga Kini

REPUBLIKA. CO. ID,  JAKARTA — Perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim nampaknya seperti hal wajib yang tidak boleh terlewatkan. Bermaaf-maafan, berbagi hadiah, hingga bersilaturahim ke ahli saudara dan kolega merupakan periode dari perayaan tersebut. Namun tahukah kita bahwa sesungguhnya perayaan Idul Fitri yang kita kenal era ini memiliki sejarah panjang yang menyertainya?
Perayaan Idul Fitri pertama kali dilakukan setelah selesai Perang Badar.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Perayaan Idul Fitri untuk umat Muslim nampaknya seperti hal wajib yang tidak boleh terlewatkan. Bermaaf-maafan, berbagi hadiah, hingga bersilaturahim ke sanak saudara dan partner merupakan bagian dari perayaan itu. Namun tahukah kita bahwa nyata perayaan Idul Fitri yang kita kenal saat ini memiliki kenangan panjang yang menyertainya?

Imam Ibnu Katsir pernah menjabarkan bagaimana perayaan Idul Fitri berlaku di masa Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat hadis shahih, Nabi pernah merayakan hari pertama besar Idul Fitri dalam kondisi payah. Beliau bahkan sampai bersandar pada Bilal bin Rabah dan memberikan khutbahnya.

Menyambut keadaan kemenangan dengan hal-hal positif benar sangat dianjurkan. Hal itu terbukti bagaimana antusiasnya Rasulullah SAW di menyambut Idul Fitri, namun tetap saja beliau tidak menanggalkan syariat agama atau berlebih-lebihan atas segalanya.

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat jahiliyah Arab telah memiliki dua hari raya, yaitu hari raya Nairuz dan Mahrajan yang dirayakan dengan sambutan pesta pora yang tidak bermanfaat. Minum-minuman memabukkan, menari, adu ketangkasan tercatat salah satu ritual dalam perjamuan kedua hari raya tersebut. Bersandarkan buku Ensiklopedi Islam, kedua hari raya tersebut sejatinya berasal daripada zaman Persia Kuno. Di lalu hari, Rasulullah SAW mengganti kedua perayaan masyarakat Arab itu secara hari raya yang lebih elok, yakni hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar dengan dimenangkan oleh kaum Muslimin. Perang yang terjadi pada Ramadhan tersebut dengan jumlah pasukan di bagian umat Muslim yang jauh lebih sedikit dibanding kaum kafir, nyatanya diganjar Allah dengan perayaan dengan luar biasa indah dan barokah: Idul Fitri.

Sebagaimana kita ketahui, di kedua hari raya umat Muslim seperti Idul Fitri dan Idul Adha, setiap Muslim justru ditekankan untuk berbuat kebaikan dan faedah. Menjelang perayaan Idul Fitri saja, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat untuk dibagikan kepada para mustahik (orang-orang penerima zakat).

Segala kebaikan yang tercurah lantaran jiwa-jiwa umat Muslim selama Ramadhan, sejatinya sangat terasa pada keadaan raya Idul Fitri bagi semua elemen. Sehingga bisa dikatakan, perjamuan Idul Fitri dapat melingkupi kesenangan bagi seluruh umat Muslim sebab berbagai kalangan.

Patuh Prof HM Baharun, hakikat perjamuan Idul Fitri sendiri sejatinya ialah perayaan kemenangan iman dan menimba atas nafsu di medan jihad Ramadhan. Umat Islam yang lulus menjinakkan nafsu selama Ramadhan balik fitrah dan layak untuk merayakannya dengan cara yang baik serta benar.

Pada Keturunan Abbasiyah, perayaan Idul Fitri dilakukan dengan rangkaian kegiatan yang hidup. Biasanya pada zaman tersbeut, perjamuan dilakukan selama tiga hari dengan diakhiri dengan menyantap beraneka pembawaan makanan halal yang disajikan.

Dalam buku Empire of the Islamic World karya Robin Santos Doak dijelaskan, umat Muslim yang berada di jalan-jalan Kota Baghdad dihibur dengan penampilan para musisi dan penyair yang menunjukkan kebolehan mereka. Tentu saja, hiburan tersebut bernilai positif dan tidak menyalahi syariat.