Sandaran Medis untuk Palestina Masih Tercampak di Israel

Sandaran Medis untuk Palestina Masih Tercampak di Israel

REPUBLIKA. CO. ID, YERUSALEM — 4 belas ton pasokan medis dengan dikirim untuk membantu Palestina menyalahi pandemi virus corona masih berada di Bandara Ben Gurion pada Selasa malam. Bantuan tersebut masih berada di sana tepatnya seminggu setelah bantuan itu tiba dari Uni Emirat Arab (UEA).
Seminggu setelah tiba di bandara, bantuan medis UEA untuk Palestina sedang ditolak

REPUBLIKA. CO. ID, YERUSALEM — Empat belas ton pasokan medis yang dikirim untuk positif Palestina mengatasi pandemi virus corona masih berada di Bandara Ben Gurion pada Selasa malam. Sandaran tersebut masih berada di sana tepatnya sepekan setelah bantuan tersebut tiba dari Uni Emirat Arab (UEA).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya untuk menemukan cara dalam menjatah bantuan itu, setelah Otoritas Palestina mengumumkan bahwa mereka tidak bakal menerimanya. Bantuan itu tiba melalui penerbangan langsung pertama dari UEA ke Israel dan disambut oleh Kementerian Luar Negeri.

Namun, Otoritas Palestina menegaskan tidak dapat menerima bantuan itu karena UEA sebelumnya tidak melakukan penyelarasan. Bantuan itu juga dipandang sebagai langkah normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Teluk.

Bantuan tersebut meliputi sepuluh ventilator, alat pelindung diri, baterai lithium untuk peralatan rumah sakit, serta bahan pembersih. Seorang pejabat PBB mengatakan kepada The Times of Israel bahwa bantuan peralatan kesehatan itu akan dipindahkan dari Bandara Ben Gurion ke fasilitas holding di Ashdod.

“Begitu sampai di Ashdod, kita bakal mulai melakukan pembicaraan tentang cara mengirim bantuan, ” ujar pejabat PBB yang tidak mau disebutkan namanya.

Meski ada penolakan dari Otoritas Palestina, kira-kira pejabat mengisyaratkan bahwa akan ada upaya untuk mendistribusikan bantuan ke Tepi Barat. Namun, ada kebutuhan bantuan yang jauh lebih gede di Jalur Gaza. PBB membuktikan 65 persen bantuan alat medis dari UEA itu akan didistribusikan ke Jalur Gaza dan sisanya ke Tepi Barat.

“Rencana tersebut mendukung upaya yang dipimpin oleh Pemerintah Palestina buat mengatasi pandemi dan mengurangi dampaknya, ” kata Utusan Timur Tengah PBB Nikolay Mladenov.

Direktur Layanan Kesehatan Departemen Kesehatan tubuh Osama al Najjar mengatakan, UEA tidak berkoordinasi dengan Palestina terpaut pengiriman bantuan medis tersebut. Menurutnya, UEA hanya berkoordinasi dan menyala sama dengan Israel saja.

“Kami tidak dapat menyambut pengiriman yang merupakan pintu menyelap menuju normalisasi antara negara-negara Arab dan Israel. Ini adalah masalah politik yang telah lama dicari-cari Israel, membalikkan Inisiatif Perdamaian Arab, ” ujar al Najjar yang merujuk pada proposal yang menjanjikan Israel menormalisasi hubungan dengan negeri Arab, jika mencapai solusi dua negara.

Al Najjar mengklarifikasi bahwa alasan penolakan Otoritas Palestina bukan karena bantuan dirikim melalui Israel, tapi cara UEA mengirimkan bantuan. Dia menegaskan Palestina tidak akan menerima bantuan tersebut.

“Kami tidak memiliki masalah dengan persediaan medis dengan tiba di Bandara Ben Gurion. Kami menerima pasokan dari China melalui Ben Gurion dengan koordinasi erat antara kami dan Dominasi Palestina, ” ujar Al Najjar.