Kadin: Fintech Lendig Bisa Jadi Pintu Baru UMKM Akses Modal

Kadin: Fintech Lendig Bisa Jadi Pintu Baru UMKM Akses Modal

REPUBLIKA. CO. ID,  JAKARTA — Kamar Dagang dan Pabrik (Kadin) Indonesia menilai fintech lending atau layanan pinjam meminjam kekayaan berbasis teknologi informasi dapat menjadi sebuah pintu baru bagi UMKM untuk bisa mengakses permodalan.
Kadin meyakini proses risk profile bisa dilewati bila memakai Fintech Lending

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Kamar Kulak dan Industri (Kadin) Indonesia menghargai fintech lending atau layanan meminjam uang berbasis teknologi informasi dapat menjadi sebuah pintu hangat bagi UMKM untuk bisa mengakses permodalan.

“Fintech lending dengan terobosan-terobosan yang bisa menggunakan akses analisa digital akan menjadi sebuah kesempatan baru bagi UMKM untuk mampu mengakses permodalan, ” ujar Pemangku Ketua Umum Kadin Bobby Gafur Umar dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (12/6).

Menurut Bobby, dengan adanya akses baru melalui digital, maka dengan namanya proses risk profile di bank akan menjadi terpotong atau terlewati. Persoalan di bank terkait pemberian kredit adalah rata-rata perusahaan mutakhir atau yang tidak memiliki garansi mengalami kesulitan untuk lolos cara manajemen risiko bagi calon nasabah.

“Kalau kita bayangkan misalnya pelaku UMKM memasarkan produknya lewat marketplace online dari mulai trading history saja sudah bisa terlihat, jadi data analisa risk profile bisa terlihat jelas dari bisnis tersebut, ” kata Wakil Ketua Umum Kadin tersebut.

Selain itu Bobby mengatakan bahwa terkait permodalan, masalah bagi UMKM merupakan mereka tidak mampu untuk mengakses permodalan.

Kalau harus mengajukan permohonan kredit atau pinjaman kepada bank, pelaku UMKM akan menghadapi berbagai macam syarat seperti jaminan, kelayakan usaha dan sebagainya yang kemungkinan karakternya sangat berbeda dengan persyaratan bank.

Padahal secara bisnis, ketika tahun 1998 saja terbukti UMKM dengan menjadi penyelamat perekonomian nasional, serta sampai sekarang sektor usaha di Indonesia masih didominasi oleh UMKM.

“Yang jadi perkara UMKM bukannya tidak membutuhkan dana, dana Kredit Usaha Rakyat ataupun KUR dengan bunga enam persen tentunya banyak yang berminat tetapi masalah terletak pada cara mengaksesnya, ” kata Bobby Gafur. Pada sisi lain karena penyalurannya mencuaikan perbankan, justru bank-bank mengalami pengganggu untuk mendapatkan nasabah.

Menurut dia, Indonesia harus mampu masuk pada langkah yang kreatif, mendahului langkah-langkah negara lain. Lupa satu langkah terobosan dan kreatif tersebut adalah selain menggunakan bank, penyaluran KUR juga bisa bekerjasama dengan fintech lending namun tetap saja nasabah dan risk profile-nya menjadi tanggung jawab fintech tersebut.

sumber: Antara