Teriak Anti-Hitler, Zionis Israel Justru Berkiblat ke Hitler

Teriak Anti-Hitler, Zionis Israel Justru Berkiblat ke Hitler

REPUBLIKA. CO. ID,  Hal inilah yang saat ini dan di masa datang berlaku di bumi Palestina. Dengan seluruh cara Israel menjalankan operasi pemusnahan sebuah bangsa, Palestina, agar mampu mengangkangi ‘Tanah yang Dijanjikan’.
Israel menjalakan siasat Hitler yang rasis dan anti-perdamaian.

REPUBLIKA. CO. ID,   Hal inilah yang sekarang dan di masa datang berlaku di bumi Palestina. Dengan segala cara Israel menjalankan operasi pemusnahan sebuah bangsa, Palestina, agar mampu mengangkangi ‘Tanah yang Dijanjikan’.

Tak usahlah sampai dipicu oleh serangan-serangan dari pihak Palestina, rezim Israel sendiri sudah dengan sepenuh gagasan membunuhi rakyat Palestina, kanak-kanak tak terkecuali.

Sudah tak terbilang pembongkaran rumah orang Palestina tanpa sebab, atau sebab yang dicari-cari, dan setelah dibongkar tidak boleh lagi ditempati si empunya. Kaum zionis Israel berusaha mengeluarkan bangsa Palestina dari muka dunia selamanya.

Kalaulah dunia harus selalu mengenang kekejaman Nazi-Hitler terhadap orang Yahudi, kekejaman Ariel Sharon dan rezimnya terhadap bangsa Palestina pun jelas tak bisa dilupakan dunia. Selalu Israel berusaha menciptakan dalih bahwa mereka adalah pihak yang terserang, dan operasi yang dilancarkannya adalah pembalasan belaka.  

Padahal apalah yang tidak dilakukannya untuk menyentuh maksudnya. Adikuasa seperti Amerika Serikat (AS) saja sudah berapa kala ‘dikerjai’ Israel dengan akibat rakyat Palestina yang menjadi sasaran pembantaian. Itu sudah diketahui dunia, tetapi ya begitulah, para petinggi Amerika Serikat  tak ada yang gagah melontarkan kecaman apalagi menjatuhkan azab terhadap si pemfitnah.

Alhasil, strategi Israel ialah menguasai bumi Palestina tetapi tidak menghendaki seorang Palestina pun hidup di bumi itu. Pembunuhan, pembongkaran panti, pemasangan pagar pemisah yang alurnya bengkak bengkok mencari bagian-bagian negeri Palestina yang subur, semuanya untuk membuat orang Palestina hidup pada semacam reservat orang Indian pada Amerika Serikat.  

Tanah yang subur sebanyak barangkali direbut, dan orang-orangnya didepak ke bagian yang gersang serta tak mungkin ditanami karena tak tersedia sumber air di dalamnya. Sebutan Sharon tentang penggusuran para warga dari Gaza hanyalah dalih untuk dapat mengangkangi lebih banyak provinsi lain di Tepi Barat.

Itulah konsep ‘kemerdekaan’ bagi Palestina versi Israel: rakyat Palestina hidup terkungkung di tanah gersang, tergantung secara ekonomis kepada Israel, dan tak boleh memiliki daya pertahanan diri. Tak adalah yang bernama Negara Palestina Merdeka dengan berdaulat penuh. Yang ada hanyalah sekadar tanah berpagar, dan penghuninya merupakan warga entah kelas berapa, sebab toh tak dibolehkan terlihat sama tinggi dengan orang Yahudi, yang hidup di petak-petak desa Palestina. Dan, itulah demokrasi dengan dibualkan kaum zionis sebagai satu-satunya ‘demokrasi’ di Timur Tengah, yang dikejar kaum zionis bukanlah demokrasi melainkan supremasi Yahudi.

Sudah berdasawarsa perjuangan bangsa Palestina yang terlalimi  kaum Yahudi yang dibekingi kekuatan-kekuatan dunia. Kalau toh ada pembelaan, tak cukup upaya itu untuk menggeser pendapat para-para petinggi negara-negara besar untuk mengangkat harkat bangsa yang terpuruk nyaris gepeng oleh tragedi kemanusiaan lanjut.  

Tetapi kaya terbukti di Afrika Selatan, apartheid bisa dihapuskan. Memang bangsa Palestina masih harus berjuang untuk menyamakan diri dengan kaum penjajahnya, ahli Yahudi garis keras yang memimpin rezim Israel, dengan berusaha sekuat tenaga menggalang opini dunia bahwa mereka punya hak penuh untuk tanah mereka.

Sudah terlontar gagasan untuk membentuk besar negara, Palestina dan Israel, tetapi dalam perkembangannya, yang dikehendaki Israel nyatanya adalah sebuah negara Yahudi, dan kelompok-kelompok Palestina yang tumbuh dalam kungkungan pagar tanpa sah apa pun. Kalau mungkin malah bangsa Palestina itu musnah lantaran muka bumi. Itulah kaum zionis yang terus menerus meneriakkan kebrutalan Nazi-Hitler.

*Naskah ini merupakan Tajuk Harian Republika dengan diterbitkan pada 6 Oktober 2004

sumber: Harian Republika