Umum Jateng Diajak Lindungi Anak sebab Paparan Covid-19

Umum Jateng Diajak Lindungi Anak sebab Paparan Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID, SEMARANG — Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Tengah mengajak asosiasi untuk berperan aktif melindungi anak-anak dari paparan Covid-19 yang sudah menginfeksi 500 lebih anak di provinsi itu.
Pengampu harus mengajarkan anaknya mengenai implementasi protokol kesehatan.

REPUBLIKA. CO. ID, SEMARANG — Gugus Tugas Covid-19  Provinsi Jawa Tengah membawa masyarakat untuk berperan aktif menyimpan anak-anak dari paparan Covid-19  dengan sudah menginfeksi 500 lebih anak di provinsi itu.

“Jumlah anak di Jateng yang terpapar Covid-19  sebanyak 538 bujang yang terdiri dari 222 budak perempuan dan 316 anak laki-laki berusia 0-11 tahun, ” kata Ketua Tim Ahli Gugus Perintah Covid-19  Provinsi Jawa Tengah tabib Anung Sugihantono pada seminar secara daring dengan tema “Peran Jalan dalam Mempromosikan Program Kesejahteraan serta Perlindungan Anak di Masa Pandemi: Anak-anak Dalam Pusaran Klaster Tanggungan Covid-19” di Semarang, Jumat (18/9).

Menurut dia, data tersebut berdasarkan sistem pemberitahuan yang diakses di coronajateng. co. id pada Kamis (17/9) dalam pukul 11. 00 WIB.   “Orang tua kudu mengajarkan anaknya mengenai penerapan adat kesehatan seperti yang termudah membasuh tangan dan memakai masker setiap saat, ” ujarnya.

Setya Dipayana, tabib spesialis anak dari Ikatan Sinse Anak Indonesia menjelaskan bahwa budak memiliki kekebalan tubuh atau imunitas yang bagus.   “Karena imunitasnya bagus, mereka prospek justru menjadi asymptomatis yakni telah terpapar Covid-19, namun tidak membuat gejala apa-apa karena mereka kukuh, ” katanya.

Akan tetapi, lanjut dia, ketika mereka berdekatan dengan karakter yang kekebalannnya menurun atau pengampu, maka mereka menjadi penular ataupun bisa disebut penyebar super (super spreader).

“Anak-anak jadicarrier, dia bisa menyerakkan ke mana pun tanpa terdeteksi, namun keluarga sekarang sering sejumlah anaknya tidak usah dicek sebab merasa kasihan. Padahal kita cakap, ia bisa menjadi penyebar. Sebab karena itu kita semua harus sadar dengan membuat adaptasi kepada kebiasaan baru bagaimana agar penularan itu tidak terjadi, ” ujarnya.

Tatkala itu, psikolog dari Universitas Katolik Soegijapranata, Kuriake Kharismawan, yang selalu menjadi sukarelawan penanganan Covid-19  bagi pasien positif di Rumah Jawatan Wali Kota Semarang menjelaskan bahwa jumlah anak yang terpapar corona terus meningkat.

“Pagi tadi ada 16 anak, Rabu lalu bahkan tersedia yang melarikan diri, untung segera kami temukan lagi. Yang benar, sifat anak-anak itu adalah ingin bermain dan pergi ke mana-mana. Itu adalah karakter khas bani di masa puber. Selain itu selalu ingin tantangan, ” katanya.

Selain itu, Kuriake juga melihat ciri pasien Covid-19 yang justru membina yang bersangkutan menjadi tersudut.   “Kami ingini umum tidak memberi stigma negatif. Tanpa dijauhi, bila mereka dinyatakan sehat, berarti itu memang sembuh, ” ujarnya.

sumber: ANTARA