Ekonomi Suku Badui tak Terhalang Pandemi Covid-19

Ekonomi Suku Badui tak Terhalang Pandemi Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID, LEBAK — Aktivitas kesibukan ekonomi masyarakat adat Badui yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga kini tak terhalang pada saat pandemi Covid-19. Mereka bekerja di ladang dan menghasilkan aneka kerajinan.
Flora yang dikembangkan Suku Badui mampu menopang ekonomi bulanan.

REPUBLIKA. CO. ID, LEBAK — Aktivitas kesibukan ekonomi masyarakat adat Badui yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga kini tidak terhalang pada saat pandemi Covid-19. Mereka bekerja di ladang dan menghasilkan aneka kerajinan.

“Semua warga Badui tetap bekerja dan tidak ada yang menganggur saat pandemi Covid-19, ” sirih Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang juga tetua kebiasaan Badui, Jaro Saija, Sabtu (3/10).

Masyarakat Badui Pada maupun Badui Luar dengan warga 11. 620 jiwa dan berisi dari 5. 870 laki-laki dan 5. 570 perempuan hingga saat ini tidak mengalami masalah ekonomi kelanjutan pandemi corona yang banyak terjadi pada masyarakat di berbagai kawasan di Indonesia. Selain itu selalu warganya tidak ditemukan kerawanan pangan maupun kelaparan, sebab mereka berjalan di ladang-ladang bercocok tanam padi huma, palawija, hortikultura dan tumbuhan keras.

Tanaman yang dikembangkan warga Badui itu mampu menopang ekonomi bulanan. Seperti hortikultura jenis sayur-sayuran dan palawija jenis kacang tanah dan jagung jadi penghasilan ekonomi bulanan.

Sedangkan, kata dia, tanaman keras di antaranya pohon albasia dan lame bisa menghasilkan ekonomi lima tahunan.

Di bibir itu juga masyarakat Badui berkembang aneka kerajinan kain tenun, tas koja, souvenir dan minuman madu lebah serta golok. Kerajinan umum Badui itu hingga kini menahan ekonomi keluarga, meski merebaknya penyebaran pandemi Covid-19.

“Para perajin itu kini menjual produknya melalui jaringan internet secara online dan banyak pesanan dari sungguh daerah, ” katanya menjelaskan.

Santa (50) seorang warga Badui mengaku bahwa dirinya maka kini bisa menghasilkan pendapatan ekonomi di tengah pandemi Corona secara menjual pisang dan sayuran dibanding hasil bercocok tanam di ladang. Produksi pertanian di lahan pendapatan itu cukup terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan bercocok tanam gabah huma, pisang, sayuran dan umbi-umbian.

“Kami bisa meghasilkan uang hasil penjualan becocok menanam sekitar Rp 5 juta/bulan, ” kata Santa yang memiliki tanah ladang seluas 1, 5 hektare.

Amir (50) seorang perajin Badui mengaku dirinya kini memasarkan produk aneka kerajinan melalaikan jaringan internet atau daring secara online sehubungan sepinya wisatawan yang berkunjung ke kawasan masyarakat adat Badui. Bahkan, saat ini zona perkampungan masyarakat adat Badui pada Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar ditutup akibat adanya pemberlakuan pembatas baik berskala besar (PSBB).

Karena itu, dirinya terpaksa menyandarkan pemasaran secara online untuk memanifestasikan pendapatan ekonomi. “Kami bisa menjajakan produk aneka kerajinan tenun, souvenir dan madu lebah hingga Rp 10 juta/bulan melalui pemasaran dengan online itu, ” katanya menjelaskan.

Sementara itu, Besar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengapresiasi perajin masyarakat Badui tidak terdampak Covid-19 karena mereka memasarkan produknya mencuaikan media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook dan aplikasi marketplace.

Saat ini, perajin kelompok Badui sekitar 560 unit daya dan mereka hingga kini masih memproduksi kerajinan. “Kami berharap kegiatan warga Badui itu dapat menahan kehidupan mereka menjadi lebih cara dan sejahtera, ” ujarnya.

sumber: Antara