Kesepakatan Agama Indonesia Bisa Jadi Punca Dunia

Kesepakatan Agama Indonesia Bisa Jadi Punca Dunia

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang Kementerian Agama, Prof Muhammad Adlin Sila mengatakan, tata keragaman masyarakat Indonesia bisa menjelma rujukan dunia jika mampu menjelma penguat relasi sosial antar bagian bangsa. Untuk menegaskan realitas keragamaan itu, Kementerian Agama pun terus menggalakkan program moderasi beragama.
Stabilitas dunia Islam akan terdampak jika bani Indonesia gagal mengelola keragaman

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Besar Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang Kementerian Agama, Prof Muhammad Adlin Sila mengatakan, pengelolaan keragaman masyarakat Indonesia bisa menjelma rujukan dunia jika mampu menjadi penguat relasi sosial antar elemen bangsa. Untuk menegaskan realitas keragamaan itu, Kementerian Agama pun tetap menggalakkan program moderasi beragama.  

Prof Adlin membaca, urgensi dari penguatan moderasi mematuhi adalah menegaskan realitas keragaman gaya, budaya, dan agama yang sudah menjadi identitas bangsa Indonesia dan bernilai strategis dalam kancah negeri Internasional.

“Sebagai marga yang multikultur dan multietnis, tersebut adalah sebuah pertaruhan. Jika kesepakatan tersebut menjadi penguat relasi baik antar elemen bangsa, maka dunia akan merujuk ke Indonesia sebagai contoh ideal dalam pengelolaan keragaman, ” ujarnya saat dihubungi Republika. co. id , Selasa (13/10).

Makin, lanjut dia, secara demografis Indonesia adalah negara dengan pemeluk Islam terbesar, dan Indonesia selalu menjadi perhatian dunia dalam melihat kehidupan umat Islamnya. Jika Indonesia tak berhasil mengelola kehidupan agama sebagai pilar kerukunan, kata dia, maka akan berdampak pada percaturan Agama islam di dunia Internasional.

“Stabilitas dunia Islam akan terdampak jika bangsa Indonesia gagal membandingkan keragaman di sekitarnya, ” ucapnya.

Prof Adlin mengucapkan, masalah agama adalah satu ciri yang sangat sensitif di setiap negara, termasuk di Indonesia. Apalagi, menurut dia, solidaritas atas tanda agama terkadang melampaui ikatan-ikatan primordial lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan.

“Maka, bagi Indonesia dengan tingkat kedamaian yang sangat luas, penataan hubungan antar dan intra umat beragama dalam kerangka NKRI mendapatkan menggubris khusus, ” katanya.

Dia menambahkan, gagasan moderasi beragama yang terus digaungkan pemerintah tidak berarti mengupayakan penyatuan agama, sebab bagaimanapun agama-agama tidak akan sudah mungkin disatukan. “Jadi bukan bagaimana mewujudkan persatuan antara umat mematuhi, tetapi bagaimana belajar berbeda dan menerima perbedaan itu sebagai sesuatu keniscayaan, ” tutupnya.