'Warga Sumbar Masih Ragukan Perempuan Jadi Pemimpin'

‘Warga Sumbar Masih Ragukan Perempuan Jadi Pemimpin’

REPUBLIKA. CO. ID,  PADANG — Lembaga Riset & Konsultan Politik Spektrum Politika merilis hasil survei mengenai persepsi bangsa sumatera barat terhadap keberadaan kelompok perempuan dalam kegiatan politik.  Direktur Survei dan Data Spektrum Politika Andri Rusta mengatakan, awak Sumatera Barat masih meragukan hawa untuk menjadi pemimpin di Sumatera Barat, meskipun ada harapan kalau kaum perempuan memiliki kemampuan dan kualitas…
Masyarakat menunjang perempuan maju dalam politik, akan tetapi belum tentu memilih mereka.

REPUBLIKA. CO. ID,   MEDAN — Lembaga Riset dan Konsultan Politik Spektrum Politika merilis buatan survei mengenai persepsi masyarakat sumatera barat terhadap keberadaan kaum perempuan dalam kegiatan politik.   Penasihat Survei dan Data Spektrum Politika Andri Rusta mengatakan, warga Sumatera Barat masih meragukan perempuan untuk menjadi pemimpin di Sumatera Barat, meskipun ada harapan bahwa suku perempuan memiliki kemampuan dan nilai yang sama dengan laki-laki.

Survei 45 persen masih ragu untuk memilih perempuan yang mencalonkan diri dalam Pilkada atau calon anggota legislatif. Hanya 29 persen yang menjawab akan menunjuk, sedangkan 26 persen lainnya dengan tegas menjawab tidak akan memilah.

“Masyarakat mendukung perempuan lulus dalam politik, tapi belum tentu memilih mereka, ” kata Andri, melalui siaran pers yang diterima Republika, Jumat (30/10).

Spektrum Politika melakukan survei terhadap satu. 220 orang responden di 19 kabupaten kota di Sumatera Barat. Responden yang menjadi sampel  diambil secara bertingkat atau multistage random sampling di seluruh kabupaten/kota dengan ada. Sampel diacak secara seimbang dengan memperhatikan keterwakilan jumlah penduduk dan karakteristik penduduk yang ada.

Andri menyebut di Minangkabau, perempuan memiliki posisi strategis. Keluarga perempuan tidak hanya sebagai dasar matriarki dalam adat dan budaya Minangkabau, tapi juga menjadi tanda keluhuran budaya Minangkabau yang benar dinamis.    

“Kaum perempuan di Ranah Minang dengan dikenal dengan bundo kanduang, mempunyai posisi yang terhormat dan dimuliakan. Bahkan keberadaan mereka dalam suku dan kaum sangat ditinggikan, apalagi jika dihubungkan dengan harta pusako tinggi, ” ujar Andri.

Dari survei yang dilakukan, 56, 9 persen dari mereka mengucapkan bahwa adat dan budaya Minangkabau mendukung perempuan beraktivitas dalam kesibukan politik. Hanya 26, 6 komisi yang menyatakan aktivitas perempuan dalam ranah politik bertentangan, sedangkan 16, 5 persen menjawab tidak cakap.    

“Menariknya merupakan, responden meyakini bahwa kaum rani di Sumatera Barat dianggap bisa bersaing dengan kaum laki-laki dalam aktivitas politik. Hasil survei menunjukan sebanyak 60, 3 persen kerabat perempuan di Provinsi Sumatera Barat dianggap mampu bersaing dengan kelompok laki-laki dan sebanyak 27, enam persen yang mengatakan perempuan tak mampu bersaing dengan kaum laki-laki, 13, 1 persen yang menanggapi tidak tahu dengan kondisi itu, ” kata Andri.

Tapi seandainya perempuan memimpin institusi di Sumatera Barat, sebanyak 46, 6 persen mengatakan hasil yang dicapai perempuan akan sama dengan lembaga politik jika dipimpin oleh famili laki. Hanya 31, 1 persen saja yang mengatakan hasilnya tidak akan sama jika kaum laki-laki yang memimpin dan sebanyak 22, 3 persen tidak tahu dengan realita ini.

Andri menjelaskan, survey ini memiliki margin of error sebesar 2, 9 upah. Untuk menjaga kualitas survei, Spektrum melakukan quality control dengan jalan menelpon ulang responden untuk mengkonfirmasi jawaban mereka sebelumnya. Quality control survei ini dilakukan terhadap 60 persen dari total sampel dengan diwawancarai oleh enumerator sebelumnya.